Maret 03, 2013

Makalah tugas matakuliah bahasa indonesia,MELUKIS UNTUK MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK


"MELUKIS UNTUK MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK"







Jurusan pendidikan seni rupa
fakultas bahasa dan seni
uneversitas negeri yogayakarta
2008





PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Manusia memiliki kebutuhan rasa akan keindahan, Untuk memenuhi kebutuhan akan cita rasa keindahan, manusia berpikir dan
membuat karya seni. Seni rupa sebagai media ekspresi
sering dijadikan sarana pengungkapan gagasan. Dalam hal ini, gagasan atau ide anak
bila dilakukan secara benar akan membuat anak menjadi kreativ. Anak biasanya akan cendrung ke pamandangan dan kartun. Untuk itu sebelum
pelaksanaan praktik melukis di mulai, siswa terlebih dahuluh diberi gambaran melalui
contoh-contoh lukisan bahwa melukis itu tidak harus pemandangan atau kartun saja
akan tetapi masih banyak ide atau gagasan dan objek lain yang dapat menjadi tema
lukisan sehingga anak akan menjadi lebih kreativ.anak-anak dapat lebih bisa berekspresi untuk menyalurkan ide dan gagasan atau bahkan keluhan-keluhan dan masalah yang dialami anak melalui melukis  dan itu sangat penting bagi pertumbuhan psikologi anak.

B. Rumusan masalah
            1. siapakah yang di sebut anak-anak?
            2. apa itu kreatif?
            3. bagaimana melukis dapat meningkatkan kreativitas anak?
C. Tujuan
1. pembaca dapat mengetahui dan memahami saipakah yang disebut anak-anak       secara tepat.
            2. pembaca dapat mendevinisikan apa itu kreativ.
            3. pembaca memahami pentingnya melukis bagi anak.
D. kajian pustaka
Seni lukis merupakan salah satu cabang dari seni rupa yang berdimensi dua.
Melukis adalah kegiatan membubuhkan cat pada bidang datar. Pembubuhan cat tersebut
diharapkan dapat mengekpresikan berbagai makna atau nilai subjektif. Melukis lebih bebas dalam menafsirkan objek sesuai keinginan pelukisnya sehingga bila itu dilakukan.
oleh anak-anak, akan sangat membantu dalam meningkatkan kretiv pada anak, ynag sangat bermanfaat pada perkembangan anak itu sendiri
PEMBAHASAN/ISI
  1. siapakah anak
Anak bukan orang dewasa dalam ukuran kecil. Kita tidak boleh melakukan anak-anak sebagai orang dewasa, anak tetaplah anak yang pikiranya penuh dengan bermain-main.Anak adalah sosok pribadi yang masih belia sesuai dengan perkembangan mental dan spiritualnya. Anak mempunyai karakter dan penampilan yang khas tampak dalam kehidupan sehari-hari maupun karya anak.
karya anak penuh dengan main-main sesuai kesukaanya. kita tidak boleh memaksakan karya anak seperti karya orang dewasa karena anak-anak mempunyai perkembangan-perkembangan. Begitu dengan karya lukisnya.
berikut perkembangan lukisan anak bila dilihat dari umur.
      Scrible Stage (masa Corengan pada usia 2 – 4 tahun; diawali dengan memberi judul gambar tidak tetap sampai yakin judulnya)
      Pre Schematic Stage (masa Pra Bagan pada usia 4 - 7 tahun; diawali dengan menggambar simbol figur tidak dengan manusia matahari sampai manusia tulang)
      Schematic Stage, (masa Bagan pada usia 7 - 9 tahun; diawali dengan menggambar bentuk yang lengkap dengan cerita, sudah mulai ada perbedaan anak laki2 dan perempuan)
      Pseudo-realism Stage, (masa Realisme Semu pada usia 9 - 11 tahun; menggambar bentuk2 dinamis bagi anak laki2 dan perempuan lebih statis dengan mengungkap keadaan lingkungan non fisik)
      Realism Stage, (masa Realisme pada usia 12-15 tahun; bentuk2 figur manusia lebih disenangi, dan lebih mengungkap gambar tokoh idola)

B. kreativitas
Kreativitas menurut Agus Sachari (1986, 86) bahwa kreativitas diakui sebagai dorongan jiwa dalam. Sehingga dengan kreatif manusia mempunyai gairah, semangat, vitalitas, cita-cita, dan proyeksi masa depannya. Tetapi kenyataannya tidaklah cukup hanya sekedar kreatif. Manusia juga mendambaklan rasionalitas dan begitu amat penting, sehingga apapaun yang dianggap bertentangan dengannya dianggap keliru, dalam denais rasionalitas terasa begitu pentingnya sebagai pengontrol kreativitas.
Dari uraian pendapat tersebut antara kreatif sebagai dorongan jiwa dalam juga pentingnya peranan rasio sebagai pengontrol kreativitas, yang pada hakekatnya rasio dan kreatif merupakan unsur utama.
Suatu perwujudan dari aktivitas kehidupan manusia sering kita namakan kebudayaan atau peradaban manusia, yang mencakup filsafat (pikiran) mengenai logika, etika, dan estetika, ilmu pengetahuan sebagai metoda, teknologi yang merupakan aplikasi ilmu pengetahuan dan seni sebagai ungkapan estetis.
Dalam aspek kehidupan, peranan manusia sebagai makhluk berakal dipengaruhi dua aspek yaitu aspek alamiah, meliputi letak geografis, kemampuan, pendidikan, dan kekayaan alam. Sedangkan aspek sosial meliputi aspek ideologi, politik, sosial budaya dan hankam.
Sesuai dengan tingkat perkembangan dan pendidikan manusia sebagai manifestasi (pencerminan) jati diri sebagai ekspresi, pencernaan pribadi dan tanggapan dalam penciptaan baik di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakatnya maka diperlukan sikap manusia dalam menopang proses kreatif sebagai pencerminan jati diri.
Dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan yang dilanda arus informasi yang semakin deras, memungkinkan adanya komunikasi dengan dunia luar, sehingga kreativitas akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan akselerasinya.
Pendidikan kreatif merupakan wahana penyaluran ideologi setiap insan manusia, dimana dalam membentuk jati diri yang mandiri.
Sudah tidak asing lagi masalah kreativitas dalam kehidupan sehari-hari, namun kita selalu mempersoalkannya, baik di lingkungan pendidikan maupun sosial kemasyarakatan.
Masalah kreativitas sangat dipengaruhi oleh kemampuan kreatif, dimana orang hanya mementingkan ratio dan logika saja sehingga akan kehilangan identitas kreatifnya.
Kreativitas sebagai suatu proses, hal ini tidak hanya dimiliki oleh anak genius, seniman, dewasa, penemu saja akan tetapi setiap manusia memilikinya termasuk anak-anak. Seperti tiap-tiap manusia memiliki ratio dan fisik, akan tetapi berbeda tingkat intensitasnya karena setiap tindak manusia pada hakekatnya merupakan gabungan  dari ketiga tingkat kemampuan, fisik, rasio, dan kreativitas.
Dalam pertumbuhan dan perkembangan pada orang dewasa peranan fisik tidak begitu penting dan setiap rangsang untuk bertindak kreatif lebih cenderung dipahami secara rasional. Sedang dalam pendidikan selama ini masalah kreativitas dalam mengembangkan rasio dan penemuan inovasi baru pada anak.
Kreativitas dalam proses kreatif penciptaan diperlukan adanya kematangan pribadi dan integrasi dengan lingkungan yang meliputi sarana, keterampilan, orisinalitas, sebagai ungkapan dan identitas yang khas. Disinilah kreativitas merupakan salah satu kemampuan manusia yang dapat membentuk kemampuan-kemampuan lainnya baik kematangan pribadinya dengan lingkungannya hingga tercipta sesuatu yang baru atau yang lebih baik.
Perkembangan lebih lanjut proses kreatif yang dikutip Agus Sachari menurut Tuti Noerhadi bahwa kreatif agaknya merupakan suatu pengertian yang serupa dengan zat pelezat, menambah rasa tetapi tidak menambah gizi. Pandangan ini cukup ekstrem yang dikaitkan dengan usaha manusia untuk memanipulasi dunia, yang seolah-olah imitasi dan bersifat glamour seperti digambarkan tentang mobil Jepang dimana onderdilnya lama tetapi bajunya baru setiap periode.
Ditegaskan lebih lanjut arti kreativitas itu tidak hanya sekedar mencuat sebagai usaha mengatasi kesulitan, tapi juga berarti memperjuangkan hidup itu sendiri. Kreatif itu akan mencapai bentuknya yang terakhir dengan hukum bagi dirinya sendiri.

C. meningakatkan kreativitas anak melalui lukis

Seni lukis adalah salah satu induk dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar.
Manusia memiliki kebutuhan rasa akan keindahan, Untuk memenuhi kebutuhan akan cita rasa keindahan, manusia berpikir dan membuat karya seni. Seni rupa sebagai media ekspresi sering dijadikan sarana pengungkapan gagasan. Dalam hal ini, gagasan atau ide anakbila dilakukan secara benar akan membuat anak menjadi kreativ. Anak biasanya akan cendrung ke pamandangan dan kartun.
 Untuk itu sebelum pelaksanaan praktik melukis di mulai, siswa terlebih dahuluh diberi gambaran melalui contoh-contoh lukisan, bahwa melukis itu tidak harus pemandangan atau kartun saja, akan tetapi masih banyak ide atau gagasan dan objek lain yang dapat menjadi tema lukisan sehingga anak akan menjadi lebih kreativ.anak-anak dapat lebih bisa berekspresi untuk menyalurkan ide dan gagasan atau bahkan keluhan-keluhan dan masalah yang dialami anak melalui melukis  dan itu sangat penting bagi pertumbuhan psikologi anak itu sendiri.


0 komentar:

Poskan Komentar